Pengunjung ke :

Link Exchange

Sistema Enlaces Reciprocos
free web site traffic and promotion
Tampilkan postingan dengan label Tentang Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Islam. Tampilkan semua postingan

Wanita Shaleh Akan Menjadi Ratunya Bidadari

Wanita Shaleh Akan Menjadi Ratunya BidadariBanyak wanita menanyakan tentang nasibnya nanti disurga, dapat jatah suami atau tidak? Pertanyaan ini timbul karena kita sering surga itu seperti dunia, sehingga ada semacam rasa iri hati ketika mendengar ayat Al-qur'an dan Hadis yang menjelaskan bahwa laki-laki nanti akan memperoleh bidadari-bidadari cantik disurga.

Sementara, wanita kurang mendapat penjelasan tentang apa yang akan didapat nanti disurga. Wannita kecemburuan, takut kalah bersaing dengan bidadari-bidadari surga.

Wanita membayangkan rasanya dimadu, diduakan dengan bidadari. Dimadu dengan satu orang istri saja rasanya sudah tak tertahan, apalagi dimadu dengan bidadari yang banyak? Sesungguhnya disurga nanti tidak ada sakit hati, tidak ada cemburu dan tidak ada dengki. Allah telah mencabut rasa iri hati dan dengki dari hati manusia, sehingga para penduduk surga saling menyayangi satu sama lain. Ketika bertemu, mereka saling menebarkan senyuman dan kata-kata yang ramah. Apa yang ada di surga semuanya adalah kenikmatan dan kesenangan hati.

Indahnya surga belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbesit dalam hati. Jangan takut dan khawatir! Wanita lebih hebat dari pada bidadari surga. Wanita-wanita yang sholeha, merekalah yang berhak didahulukan mendapatkan suami yang paling disenangi. Wanita sholehah dan suami yang sholeh kelak bisa bersatu lagi disurga. Wanita sholehah kelak akan dibuat sangat jauh melebihi cantiknya bidadari. Seorang suami hanya mencintai istri-istrinya, tidak ada wanita lain dalam benaknya, begitu juga sang istri hanya mencintai suaminya, tidak ada lelaki lain dalam benaknya.

Suaminya yang mungkin dulu jelek akan diubah menjadi tampan dan perkasa. Aisyah ra: berkata pada ketika wanita-wanita yang iri pada laki-laki di surga. " Sesungguhnya para bidadari yang mengucapkan kata-kata ini, maka para wanita dari penduduk bumi menjawab: Kami adalah wanita-wanita yang mendirikan sholat, sedangkan kamu semua (bidadari) tidak pernah sholat. Kami semua berpuasa, sedangkan kamu semua (bidadari) tidak pernh berpuasa. Kami semua berwudu, sedangkan kamu semua (bidadari) tidak berwudu..........

Kami semua bersedekah, sedangkan kamu semua (bidadari) tidak bersedekah. Lalu Aisyah berkata: Maka wanita-wanita dunia itu mengaalahkan bidadari-bidadari di surga. Demi Allah wanita-wanita penduduk bumi mendapatkan istana, pelayan, suami, mahkota, tempat wisata yang indah, dan segala sesuatu yang disenangi, yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit dalam hati manusia. Wanita yang sholat akan tampil lebih cantik dan mengalahkan bidadari. Bahkan mereka akan dibuat menjadi sangat cantik dan menjadi ratunya para bidadari di surga kelak. Sebagaimana seorang raja yang tidak akan memalingkan pandangannya kepada pelayan-pelayan wanitanya ketika sang ratu berada di sisinya, dimana ratu itu mempunyai kecantikan yang jauh melebihi para pelayan-pelayan wanita sang raja, demikian pula di surga kelak seorang suami tidak memalingkan pandangannya kepada bidadari-bidadari, ketika ada istrinya yang ketika semasa hidupnya beramal shaleh, yang kecantikannya sangat jauh melebihi para bidadari tersebut.

Begitu pula dengan yang banyak beramal sholeh, amal-amalnya akan membuat dirinya bertambah-tambah cantik disurga. Wanita-wanita yang sholehah akan menjadi ratu-ratu kecantikan disurga. Mereka lebih utama, lebbih sempurna, lebih cantik dari pada bidadari. Digambarkan oleh Rasulullah s.a.w, wanita dunia adalah pakaian yang dan mempesona setiap orang yang melihatnya. Sedangkan bidadari seperti selimut.

Rasulullah s.a.w bersabda kepada Ummu Salamah: "Sesungguhnya keutamaan wanita dunia dibandingkan dengan bidadari seperti keutamaan pakaian luar dengan selimut. Kepada wanita dunia, Allah menyiapkan rumah mewah, kenikmatan yang berkelanjutan, memberikan suami yang muda dan tampan selamanya, yang tidak pernah dilihat oleh mata sebelumnya.”

Sumber: marimengenalwanita

Nama-Nama lain dari Al-Qur'an dan Artinya

Al-Qur'an merupakan firman Allah swt. yang tiada tandingannya, yang merupakan Mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, ditulis dalam bentuk mushaf dan diturunkan secara mutawatir (berurutan). Membaca, mempelajari, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur'an merupakan ibadah.

Nama-Nama lain dari Al-Qur'an dan Artinya

Rasulullah saw. bersabda:
"Sebaik-baik diantara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (H.R Bukhari)

Dalam Al-Qur'an, terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama-nama lain yang merujuk kepada Al-Qur'an. Berikut adalah nama-nama lain dari Al-Qur'an beserta artinya.

1. Al-Kitab (kitab/buku): tercantum pada Surah Al-Baqarah ayat 2 dan Surah Ad-Dukhan ayat 2

2. Al-Furqan (pembeda antara yang benar dan yang salah): tercantum pada Surah Al-Furan ayat 1

3. Az-Zikr (pemberi peringatan): tercantum pada Surah Al-Hijr ayat 9

4. Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat): tercantum pada Surah Yunus ayat 57

5. Al-Hukm (peraturan/hukum): tercantum pada Surah Ar-Ra'd ayat 37

6. Al-Hikmah (kebijaksanaan): tercantum pada Surah Al-Israa ayat 39

7. Asy-Syifa (obat/penyembuh): tercantum pada Surah Yunus ayat 57 dan Surah Al-Israa ayat 82

8. Al-Huda (petunjuk): tercantum pada Surah Al-Jin ayat 13 dan Surah At-Taubah ayat 33

9. At-Tanzil (yang diturunkan): tercantum pada Surah Asy-Syu'ara ayat 192

10. Ar-Rahmat (karunia): tercantum pada Surah An-Naml ayat 77

11. Ar-Ruh (ruh): tercantum pada Surah Asy-Syuara ayat 52

12. Al-Bayan (penerang): tercantum pada Surah Ali Imran ayat 138

13. Al-Kalam (firman/perkataan): tercantum pada Surah At-Taubah ayat 6

14. Al-Busyra (kabar gembira): tercantum pada Surah An-Nahl ayat 102

15. An-Nur (cahaya): tercantum pada Surah An-Nisa ayat 174

16. Al-Bashair (pedoman): tercantum pada Surah Al-Jaatsiyah ayat 20

17. Al-Balagh (penyampaian/kabar): tercantum pada Surah Ibrahim ayat 52

18. Al-Qaul (perkataan/ucapan): tercantum pada Surah Al-Qashash ayat 51

Demikianlah Nama-Nama lain dari Al-Qur'an dan Artinya, Semoga bermanfaat.

Mengapa Kita Harus Bersyukur Kepada Allah swt?

Kita hidup didunia ini merupakan tanda dari kebesaran Allah swt. Allah menciptakan kita dengan sifatnya yang Maha Pencipta. Kita diberi segala kenikmatan oleh Allah swt, Kita diberi nikmat hidup, nikmat umur, nikmat sehat, nikmat rezeki, dan berbagai nikmat lainnya yang Allah berikan kepada kita. Bahkan kita tidak dapat menghitung berapa nikmat yang Allah beri kepada kita. Namun, pernahkah terlintas dalam pikiran kita bahwa semua kenikmatan yang Allah berikan kepada kita itu merupakan pemberian-Nya kepada kita supaya kita bersyukur kepada-Nya.

Allah swt. berfirman:
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku" (Q.S. Al-Baqarah:152)

Kita hendaknya menyadari sepenuhnya bahwa semua nikmat yang kita peroleh, baik besar maupun kecil, banyak maupun sedikit, itu semua merupakan anugerah dan rahmat yang datangnya dari Allah swt semata.

Allah swt. berfirman:
"Segala nikmat yang ada pada diri kalian (datangnya) dari Allah." (Q.S. An-Nahl:53)

Kita yang setiap hari masih bisa makan, masih bisa merasakan indahnya hidup bersama keluarga, teman, serta kerabat kita. Kita sebagai makhluk hidup didunia ini pantaslah senantiasa bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah swt. Karena rasa syukur akan membuat hidup kita menjadi berkah, karena rasa syukur juga dapat membuat hidup kita menjadi nyaman, tenteram, dan damai. Rasa syukur dalam diri kita membuat kita semakin dekat kepada Allah swt dan semakin bertambah cinta kita kepada-Nya.


Bersyukur Kepada Allah swt

Bagaimana cara kita bersyukur kepada Allah swt? salah satu bentuk syukur kita adalah dengan membaca kalimat "Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin". Namun, semudah itukah kita menyebut kalimat tersebut? Ketika seseorang telah yakin bahwa semua nikmat yang ia peroleh itu datangnya dari Allah, karena begitu besar rasa syukur yang ada pada dirinya, maka spontan ia akan mengucap kalimat "Alhamdulillah". Bahkan, ketika kita hendak memuji seseorang karena kebaikannya, maka hakikat pujian tersebut harus semata-mata tertuju kepada Allah swt. Sebab, Allah adalah Pemilik Segala Kebaikan.

Selain bersyukur secara lisan, kita juga dapat mensyukuri nikmat Allah dengan beribadah kepada-Nya dengan keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam diri kita. Amal kebaikan kita juga merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Allah swt. Misalnya ketika kita mendapat kenikmatan oleh Allah berupa nikmat sehat, hendaknya kita bersyukur dengan menjaga kesehatan tubuh kita. Kemudian jika kita mendapat nikmat rezeki berupa harta kekayaan dan lain sebagainya, hendaknya kita membagikan sebagian harta kita terhadap orang lain yang membutuhkan. Itulah contoh rasa syukur kita kepada Allah swt.

Oleh sebab itu, marilah kita tingkatkan rasa syukur kita kepada Allah swt, itu semua dapat dilakukan dengan melaksanakan perintah Allah, dengan meningkatkan ibadah Shalat kita, membaca qur'an, berdzikir dan berdo'a kepada Allah, dan lain sebagainya. Selain itu juga hendaknya kita menjauhi segala larangan-larangan Allah dan perbuatan yang merusak iman kita, seperti berbuat maksiat, munafiq, ingkar, dan melakukan perbuatan syirik kepada Allah swt. Na'udzubillahi min dzaalik.

Allah swt. berfirman:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sungguh adzab-Ku amat pedih," (Q.S. Ibrahim:7)

Wallahu a'lam bishawwab.

Apa Itu Puasa Arafah dan Keutamaannya

Puasa Arafah dan Keutamaannya
Salah satu amalan sunnah yang sering dilakukan Rasulullah saw. pada bulan Dzulhijjah adalah Puasa Arafah. Sebagai seorang muslim, sebaiknya kita tidak meninggalkan amalan sunnah ini, karena Puasa Arafah sangat dianjurkan untuk setiap umat muslim, dan hukumnya sunnah muakkad.

Pengertian Puasa Arafah
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada Hari Arafah, yakni pada hari ke sembilan dibulan Dzulhijjah. Puasa Arafah ini sangat dianjurkan bagi setiap umat muslim yang tidak menunaikan ibadah haji.

Jika Puasa Arafah itu merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkad) maka rugilah bila kita meninggalkannya.

Keutamaan Puasa Arafah
Dari Abu Qatadah Al-Anshariy, ia berkata bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa (kesalahan) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (H.R. Muslim No. 1162)

Namun dengan adanya hadits diatas, janganlah kita menjadikan alasan puasa Arafah untuk menghapus dosa kita sehingga kita berfikir bebas untuk mengerjakan perbuatan yang berdosa.
Keutamaan lain adalah ketika berpuasa Arafah kita disunnahkan untuk memperbanyak do'a, karena hari Arafah merupakan waktu yang mustajab untuk berdo'a.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. bersabda:

"Sebaik-baik do'a adalah do'a pada hari Arafah." (H.R. At-Tirmidzi)

Keutamaan lainnya di hari Arafah adalah pembebasan dari api neraka. Menurut para ulama, pembebasan dari api neraka ini bukan hanya kepada jama'ah haji yang sedang wukuf di Arafah, melainkan juga kepada umat muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. bersabda:

"Diantara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: "Apa yang diinginkan oleh mereka?" (H.R. Muslim)

Pada tahun ini, Insya Allah hari Arafah akan jatuh pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2014. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk kita, untuk sanggup menjalankan ibadah puasa Arafah dan dapat meraih keutamaan dan ridha Allah swt, Aamiin.

Wallahu a'lam bisshawwab.

Pengertian Ikhtiar dan Tawakal beserta Hikmahnya

Apa Itu Tawakal?
Kata ikhtiar diambil dari bahasa Arab, yakni 'ikhtaara' yang artinya memilih. Sementara dalam bentuk kata kerja, ikhtiar berarti pilihan atau memilih hal yang baik (khair).

Sedangkan menurut istilah, ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya dalam usaha mendapatkan yang terbaik, agar tujuan hidupnya selamat sejahtera di dunia dan di akhirat.


Pengertian Ikhtiar dan Tawakal beserta Hikmahnya

Ikhtiar bukan hanya usaha, atau semata-mata upaya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah membelit. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan. Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan apapun konsekuensinya, dan meskipun tidak populer atau terasa berat.

Ikhtiar berarti tidak mengenal putus asa, dan yakni bahwa rahmat Allah pasti datang setelah berikhtiar. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berikhtiar, dan melarang hamba-Nya untuk berputus asa. Sebagaimana perintah Nabi Ya'kub a.s. kepada Anak-anaknya untuk terus berikhtiar dalam mencari berita tentang Nabi Yusuf a.s. dan adiknya Bunyamin. Hal tersebut diabadikan Allah swt. dalam Al-Qur'an yang artinya:

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Q.S. Yusuf:87)

Dan Allah juga berfirman yang artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka." (Q.S. Ar-Ra'd:11)

Ayat diatas menjelaskan bahwa manusia sebagai hamba Allah diperintahkan untuk berusaha, bukan untuk berleha-leha. Sebab, rahmat Allah turun kepada kita melalui sebab atau usaha yang kita lakukan. Artinya, kita jangan pernah berputus asa dalam mencari rahmat dan ridha Allah swt.

Setelah berikhtiar dengan segala kemampuan kita, seharusnya kita menyerahkan segala usaha kita kepada Allah swt. atau yang dinamakan dengan tawakal.

Apa Itu Tawakal?
Tawakal diambil dari bahasa Arab, yakni 'Tawakul' yang artinya bersandar atau berserah diri. Tawakal diambil dari kata 'wakala' yang artinya mewakilkan, maka tawakal berarti memberikan perwakilan, kepasrahan, dan penyerahan diri kepada Allah swt.

Secara istilah, tawakal artinya berserah diri dan berpegang teguh kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Tawakal merupakan sikap bersandar dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah swt.


Pengertian Ikhtiar dan Tawakal beserta Hikmahnya

Tawakal memiliki dua unsur pokok, yaitu berserah diri dan berpegang teguh. Kedua-duanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Artinya, tidak dapat dikatakan tawakal jika belum berserah diri secara ikhlas. Tidak dapat pula dikatakan tawakal, jika belum berpegang teguh kepada-Nya, belum kokoh keyakinannya kepada kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, keadilan-Nya, kebijaksanaan-Nya, kasih sayang-Nya dalam mengatur segala sesuatu dengan sempurna.

Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bertawakal kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:

"Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplak Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hama-Nya." (Q.S, Al-Furqan:58)

Tawakal, dalam artian berserah diri kepada Allah, berarti kita membatasi tawakal semata-mata hanya kepada Allah swt, dan berkeyakinan kuat bahwa Allah swt, Maha Mampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya.
Hikmah dari Ikhtiar  1. Selalu optimis dan tidak pernah berputus asa, karena selalu yakin bahwa suatu saat ia pasti meraih hasil dari usaha dan kerja kerasnya. 2. Tidak merasakan lelah dan payah dalam berusaha, karena ia yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang mau berusaha dan berikhtiar. 3. Tidak pernah merasa khawatir terhadap segala macam kegagalan, karena ia memahami dengan baik bahwa setiap usaha memang beresiko gagal. Namun, hal tersebut diambil sebagai hikmah bahwa di balik kegagalan pasti ada kesuksesan.
Hikmah dari Tawakal 1. Dicukupkan rezekinya oleh Allah swt. dan merasakan ketenangan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt. yang artinya:

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya." (Q.S. At-Thalaq:3) 2. Dikuatkan imannya, dijauhkan dari setan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt. yang artinya:

"Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya." (Q.S. An-Nahl:99) 

Demikianlah postingan mengenai Pengertian Ikhtiar dan Tawakal beserta Hikmahnya,
Semoga bermanfaat, dan mudah-mudahan dapat diambil hikmah dan manfaat dibalik sifat dan perilaku Ikhtiar dan Tawakal dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a'lam bisshawwab,
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makna Bulan Muharram dan Keutamaan Puasa 'Asyura

Makna Bulan Muharram dan Keutamaan Puasa 'Asyura
Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender hijriyah. Kata Muharram memiliki arti 'dilarang'. Pada bulan ini, umat islam dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan da pertumpahan darah.

Bulan Muharram merupakan bulan yang agung dan penuh kemuliaan. Muharram merupakan salah satu dari ke empat bulan yang dimuliakan oleh Allah swt, yakni Zulqaidah, Zulhijjah, Rajab, dan Muharram.

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (Q.S. At-Taubah:36)

Dengan keempat bulan suci diatas, bukan berarti bahwa bulan-bulan lainnya tidak memiliki keutamaan. Pada dasarnya, setiap bulan adalah sama satu dengan yang lainnya. Namun, Allah swt memilih bulan yang khusus untuk menurunkan rahmat-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Keutamaan Puasa 'Asyura
Puasa 'Asyura merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah saw. menganjurkan kepada setiap muslim untuk melaksanakan puasa sunnah ini yang ditambah dengan puasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya.

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: "Setelah Nabi saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura, beliau berkata: "Apakah Ini?", Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu.", selanjutnya beliau berkata: "Saya lebih berhak atas Musa dari kalian." Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berpuasa pada hari itu." (H.R. Bukhari)

Dalam hadits lain juga menjelaskan,
"'Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya." Maka Nabi saw. bersabda: "Berpuasalah kalian pada hari itu." (H.R. Muslim)

Adapun Fadhilah atau Keutamaan berpuasa pada hari 'Asyura, Dari Abu Qotadah bahwa Rasulullah bersabda,

"Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun, sedangkan Puasa 'Asyura menghapus dosa satu tahun sebelumnya." (H.R. Muslim)

Demikianlah posting mengenai Makna Bulan Muharram dan Keutamaan Puasa 'Asyura,
Semoga bermanfaat.

Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia

Agama Islam adalah salah satu agama terbesar di dunia. Agama ini awalnya diturunkan di daeraih Arab. Dari daerah Arab, agama Islam kemudian mulai berkembang ke seluruh dunia. Melalui peran para Khalifah, agama Islam menyebar dan ikut membentuk peradaban di dunia. Hal ini juga didukung oleh aktivitas perdagangan dan kesadaran hukum muslim sendiri untuk menyebarluaskan Islam diantara orang-orang yang belum mengenal Islam.
Di Indonesia, agama Islam masuk secara damai melalui aktivitas perdagangan antara kaum pedagang muslim dengan penduduk setempat. Dari interaksi ini, muncul ketertarikan untuk menganut Islam. Selain para pedagang, kaum mubaligh dan para wali juga sangat berpengaruh dalam perkembangan agama Islam di Indonesia.

A. Teori Masuknya Agama Islam di Indonesia
Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, proses masuk dan perkembangan Islam di Indonesia dipengaruhi oleh tiga teori, diantaranya:

1. Teori Gujarat
Menurut teori ini, agama Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13 yang dibawa dari Gujarat (Cambay), India. Pendukung dari teori ini ialah: Snouck Hurgronye, W.F. Stutterheim, dan Bernard H.M. Vlekke. Dasar dari teori ini adalah:
A. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
B. Adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan India yang terjalin lama melalui jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa
C. Ditemukannya batu nisan Malik Al Saleh, Sultan Samudra Pasai pada tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat.

2. Teori Mekkah
Teori Mekkah ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Pendukung teori Mekkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Dasar teori ini antara lain:
A. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al Malik, yaitu gelar yang berasal dari Mesir.
B. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi'i. Sedangkan Gujarat atau India adalah penganut mazhab Hanafi.
C. Pada tahun 674 di pantai barat Sumatra sudah terdapat perkampungan Islam (Arab).

3. Teori Persia
Menurut teori ini, pada abad ke-13 Islam masuk ke Indonesia dan dibawa dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia, seperti:
A. Ditemukannya malam Maulana Maliq Ibrahim tahun 1419 di Gresik
B. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syekh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al-Hallaj.
C. Peringatan 10 Muharram atau 'Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad.
D. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi harakat.
E. Adanya perkampungan Leren-Leran di Giri daerah Gresik.
Pendukung dari teori ini adalah Prof. Dr. P.A. Hossein Djajadiningrat dan Oemar Amir Hoesin.

B. Proses Islamisasi di Indonesia
Proses Islamisasi yang terjadi di Indonesia dilakukan secara damai melalui beberapa jalur, diantaranya:

1. Perdagangan
Perdagangan merupakan tahap awal dari perkembangan Islam di Indonesia. Para pedagang tersebut berasal dari Cina, India, Persia, Arab, Mesir, dan Turki. Selain berdagang, pedagang muslim juga menyebarkan agama Islam.

2. Perkawinan
Perkawinan pada umumnya terjadi setelah pedagang muslim yang datang ke Indonesia menikah dengan wanita pribumi. Sebelum menikah, biasanya wanita pribumi itu diminta untuk mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu sebafai syarat untuk menganut agama Islam.

3. Pendidikan
Pendidikan umumnya dilakukan di pesantren-pesantren yang didirikan oleh para mubaligh dan kyai yang berada di Indonesia. Pendidikan dilakukan dengan mengajarkan Islam pada masyarakat setempat.

4. Kesenian
Penyebaran agama Islam dalam bidang kesenian banyak dilakukan oleh para wali dan mubaligh. Bentuk kesenian tersebut dapat dilihat dari seni bangunan, seni pahat, seni musik, dan seni sastra.

5. Tasawuf
Tasawuf adalah ajaran atau cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara tasawuf pada umumnya lebih mudah diterima oleh orang yang telah mempunyai dasar ketuhanan.

6. Para Ulama
Penyebaran Islam ke berbagai wilayah di Indonesia tidak lepas dari perjuangan dan kerja keras para ulama besar seperti Walisongo. Dakwah yang dilakukan oleh para Walisongo ini dilakukan secara damai, halus, dan disesuaikan dengan keadaan masyarakat setempat.

Demikianlah posting tentang Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia,
Semoga bermanfaat.

Pengertian dan Nama-nama Malaikat beserta Tugasnya

Pengertian Malaikat
Malaikat secara bahasa berasal dari bahasa Arab 'malak' yang berarti risalah atau menyampaikan pesan. Yang dalam bentuk jamaknya adala 'malaaikah'.

Sedangkan secara istilah malaikat adalah makhluk Allah swt. yang bersifat gaib, yang diciptakan dari nur (cahaya) dan wujudnya tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium, ataupun dirasakan.


Nama-nama Malaikat beserta Tugasnya

Iman kepada Malaikat Allah merupakan rukun Iman ke-2. Beriman kepada Malaikat Allah berarti meyakini atau mempercayai adanya Malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat wujud mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu ciptaan Allah yang selalu menyembah Allah, serta selalu taat dan patuh kepada perintah-Nya, sehingga mereka tidak pernah berdosa.

Walaupun manusia tidak dapat melihat Malaikat, tetapi jika Allah berkehendak, maka Malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para nabi dan rasul.

Tak ada seorang pun yang mengetahui jumlah pasti Malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya. Tetapi ada nama-nama Malaikat yang mengemban tugas dalam kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dan wajib diketahui oleh orang-orang yang beriman, berikut diantaranya.

Nama-nama Malaikat

1. Malaikat Jibril, bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para rasul, yang kemudian akan diajarkan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Selain itu juga bertugas meniupkan ruh kepada setiap calon bayi dalam kandungan Ibunya.

2. Malaikat Mikail, bertugas menyampaikan rezeki kepada seluruh makhluk hidup di alam dunia ini. Selain itu juga bertugas mengatur hujan, angin, dan tanaman.

3. Malaikat Israfil, bertugas meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat.

4. Malaikat Izrail, bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk hidup.

5. Malaikat Munkar, bertugas menanyakan hal-hal atau perkara kepada manusia di alam kubur.

6. Malaikat Nakir, memiliki tugas yang sama dengan Malaikat Nakir, yaitu menanyakan hal-hal atau perkara kepada manusia di alam kubur.

7. Malaikat Raqib, bertugas mencatat amal baik manusia semasa di dunia. Malaikat Raqib bertempat disebelah kanan manusia.

8. Malaikat Atid, bertugas mencatat amal buruk manusia semasa di dunia. Malaikat Atid bertempat disebelah kiri manusia.

9. Malaikat Malik, bertugas menjaga pintu Neraka.

10. Malaikat Ridwan, bertugas menjaga pintu Surga.

Demikianlah Pengertian dan Nama-nama Malaikat beserta Tugasnya,
Semoga bermanfaat

Makna "La Tahzan, Innallaha Ma'ana" dan Hikmahnya

Posting kali ini adalah mengenai kalimat "La Tahzan, Innallaha Ma'ana". Tahukah sobat mengenai arti maupun makna dari kalimat tersebut? Untuk itu, sekarang akan saya berikan penjelasan mengenai arti, makna, beserta hikmah yang dapat diambil dari kalimat tersebut.

Kalimat "La Tahzan, Innallaha Ma'ana" merupakan kalimat berbahasa Arab yang berasal dari Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 40, dan memiliki arti, "Janganlah engkau bersedih, Sesungguhnya Allah bersama kita.". Dalam pengertian kalimat tersebut dapat disimpulkan bahwa Allah swt. tidak menuntut kita untuk bersedih dalam berbagai permasalahan hidup duniawi, karena sungguh bahwa Allah ada untuk kita.


Makna "La Tahzan, Innallaha Ma'ana" dan Hikmahnya

Dalam setiap masalah yang kita hadapi, kita sebaiknya bersikap sabar agar kita dapat mengatasi berbagai kesedihan maupun duka yang kita alami ketika mendapat cobaan dari Allah swt. Dan kita harus yakin bahwa setiap cobaan maupun ujian dari Allah, pasti ada jalannya jika kita mau berikhtiar dan bertawakkal dengan sebenar-benarnya tawakkal kepada Allah. Karena Allah tidak akan membebani setiap hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Hendaknya kita meyakini bahwa Allah pasti ada bersama-sama kita, dan pasti Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambanya. Bahkan jika kita kehilangan sesuatu yang menurut kita berharga, maka percayalah bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Ingat!, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu! karena sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar.

Demikianlah posting mengenai Makna "La Tahzan, Innallaha Ma'ana" dan Hikmahnya,
Semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bisshowwab.

RENUNGAN: Kehidupan Dunia Yang Semetara

Segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dunia, hanyalah sementara. Kita hidup di dunia ini, tidaklah selamanya, karena sesungguhnya kehidupan akhiratlah yang kekal abadi.

Allah swt. berfirman:
"Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (Q.S. Al-A'la:16-17) 

Allah swt. juga berfirman:
"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." (Q.S. Al-Ankabut:64)

Betapa banyak manusia yang hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan dunia, sehingga membuat mereka tidak bersyukur kepada Allah. Mereka yang durhaka kepada Allah, hanya ingin mencapai kenikmatan hidup di dunia, dan lupa bahwa tujuan hidup di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada Allah, dan membawa bekal amal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi kehidupan sesudahnya.



Untuk itu, Janganlah kita terlena dan lalai hanya karena harta, kekayaan, gelar maupun jabatan yang kita dapatkan semasa di dunia, karena itu semua akan membuat kita rakus, bangga, dan cinta terhadap dunia, dan lupa terhadap akhirat.
Allah swt. berfirman:

    "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al-Hadid:20)

Marilah kita renungkan bersama, jadikan hidup kita yang hanya sementara ini menjadi ladang amal untuk mempersiapkan diri menuju alam akhirat. Janganlah kita sia-siakan hidup di dunia yang singkat ini dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti dosa maupun perbuatan maksiat yang justru akan menjerumuskan kita ke neraka.

Kita jadikan sisa umur kita untuk senantiasa memperbanyak amal-amal sholeh, sebagai perbekalan hidup di akhirat kelak, dengan mengharapkan ridha-Nya. Semoga Allah menerima segala amal ibadah yang kita lakukan, Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.

Hikmah dari Peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal pada penanggalan hijriah, seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia memperingati hari maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Hari Maulid Nabi ini merupakan sebuah tradisi yang sudah berkembang pada masyarakat Islam jauh sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid Nabi biasanya dilakukan dengan ekspresi kegembiraan umat Islam, pembacaan sholawat, serta pengajian-pengajian. Alangkah baiknya jika kita mendalami makna kelahiran Nabi Muhammad SAW untuk meningkatkan kecintaan kita terhadap Rasulullah SAW.

Kita mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir yang diutus oleh Allah swt. Ya, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah swt ke bumi ini sebagai Khatam An-Nabiyyin atau Penutup para Nabi-nabi sebelumnya. Allah swt juga menurunkan kitab Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan pedoman hidup manusia agar mencapai keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.
Bagina Nabi Muhammad SAW diutus sebagai penyempurna akhlak manusia yang pada waktu itu, masyarakat Arab berada dalam zaman jahiliyah atau zaman kebodohan. Dimana diantara mereka banyak yang bertindak tanpa didasari dengan pengetahuan dan ajaran Islam, seperti menyembah berhala, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, mabuk-mabukan, zina, dan lain sebagainya.

Sifat Rasulullah SAW yang wajib kita ketahui dan teladani antara lain Siddiq yang artinya benar/membenarkan, tabligh yang artinya menyampaikan kebenaran/berita gembira, amanah yang artinya dapat dipercaya, dan fatonah yang artinya cerdas. Kita sebagai umat muslim, sudah sepatutnya meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW yang sudah melekat sejak beliau masih kecil.

Ketika itu, Rasulullah SAW menyebarkan agama Allah (Islam) dengan berbagai cara atau metode dakwah. Metode dakwah beliau antara lain adalah dengan menyeru dan mengajak manusia untuk memeluk agama Islam, serta memberikan pemahaman dan kesadaran akan kebenaran ajaran agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah menghasilkan sebuah keberhasilan, dimana banyak masyarakat disekitar Mekah ketika itu yang memeluk agama Islam. Keberhasilan tersebut dicapai dengan sistem atau metode dakwah dengan memberikan tauladan yang baik, pendidikan yang berisi tentang pesan-pesan dakwah, hingga dengan memberikan kata-kata yang bijak untuk memberikan kesadaran dan pemahaman ajaran Islam kepada para pemimpin kerajaan non-Islam pada waktu itu.

Pada zaman sekarang ini, kita melihat sering terjadi kekacauan yang merusak akhlak manusia dalam segala aspek kehidupan. Hal tersebut dipacu oleh sifat-sifat manusia itu sendiri, diantaranya adalah sifat kemunafiqan, kezaliman, kebohongan, fitnah-memfitnah, memprovokasi, senang mengadu domba, serta sifat-sifat negatif lainnya yang memang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dengan kondisi kehidupan dunia yang seperti saat ini, kita perlu sedikit merenungkan diri untuk senantiasa mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Nabi kita, yakni Nabi Muhammad SAW. Beliau telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara menjadi seseorang yang kaya dengan sifat kedermawanan, dan menghindari sifat-sifat sombong, tamak, maupun takabur. Beliau juga telah mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang adil, arif, dan bijaksana, dan bukan menjadi pemimpin yang hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri saja.

Demikian Hikmah dari Peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW,
semoga bermanfaat.